Reksadana adalah produk investasi yang menghimpun dana dari masyarakat untuk dialokasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti obligasi, deposito, saham, dan lain sebagainya. Setelah jangka waktu tertentu, investor reksadana akan mendapatkan imbal hasil sesuai dengan perolehan hasil pengelolaan manajer investasi dikurangi biaya penyertaan yang telah ditentukan.

Di Indonesia, produk reksadana diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Semua manajer investasi dan produk reksadana yang diterbitkannya harus diketahui dan memperoleh ijin dari OJK.

Reksadana

 

Cara Kerja Investasi Reksadana

Pada prakteknya, perusahaan penerbit reksadana (manajer investasi) akan menerbitkan prospektus reksadana yang memuat rincian mengenai perijinannya, kebijakan investasi (kriteria pemilihan instrumen investasi), rekam jejak manajer investasi, metode perhitungan Nilai Aktiva Bersih (NAB), biaya-biaya yang dikenakan, dan lain sebagainya. Apabila calon investor menyukai rincian yang dipaparkan dalam prospektus, maka ia dapat membeli unit penyertaan pada produk reksadana tersebut.

Selama masa penyertaan, manajer investasi akan memberikan laporan berkala mengenai kinerja historis (Fund Fact Sheet). Setelah beberapa waktu berlalu, investor dapat menjual kembali unit penyertaannya untuk mencairkan dana pokok dan keuntungan investasi setelah dikurangi biaya-biaya.

Biaya penyertaan reksadana mencakup Subscription Fee (biaya pembelian unit penyertaan), Redemption Fee (biaya penjualan unit penyertaan), dan Switching Fee (biaya pengalihan jika Anda ingin mengganti produk reksadana berbeda di bawah manajer investasi yang sama). Masing-masing berkisar antara 0 hingga 5 persen, dan seharusnya sudah dijelaskan dalam prospektus.

Cara Mendapatkan Reksadana

 

Keuntungan Dan Risiko Reksadana

Sebagai wahana investasi, reksadana memiliki potensi keuntungan dan risiko beragam, tergantung jenisnya:

  1. Reksadana Saham: minimal 80 persen dana yang terhimpun akan diinvestasikan pada saham. Biasanya, manajer investasi akan menjelaskan saham dengan kriteria apa saja yang dibeli; misalnya khusus hanya saham sektor Consumer saja, atau lainnya. Reksadana ini cenderung berisiko tinggi, tetapi memiliki potensi return paling tinggi. Berdasarkan data awal tahun 2018, return reksadana saham tertinggi mencapai 17-18 persen.
  2. Reksadana Pendapatan Tetap: minimal 80 persen dana yang terhimpun akan diinvestasikan pada obligasi yang diterbitkan pemerintah ataupun korporasi yang memberikan pendapatan tetap. Reksadana ini cenderung berisiko menengah, sehingga cocok bagi investor moderat.
  3. Reksadana Pasar Uang: seluruh dana investor akan dialokasikan pada instrumen yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun seperti deposito, obligasi, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Reksadana ini memiliki risiko paling rendah, tetapi potensi keuntungannya juga paling kecil ketimbang jenis reksadana lainnya. Berdasarkan data awal tahun 2018, return reksadana pasar uang tertinggi mencapai 2-3 persen.
  4. Reksadana Campuran: seluruh dana investor akan dialokasikan pada berbagai jenis instrumen investasi, baik itu saham, obligasi, maupun aset-aset bertenor kurang dari satu tahun. Tingkat risiko reksadana campuran cenderung menengah dengan return mirip dengan jenis reksadana pendapatan tetap.
  5. Reksadana Syariah: sesuai namanya, seluruh dana investor akan dialokasikan pada instrumen keuangan yang sudah berstempel syariah, misalnya saham-saham dalam daftar Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), obligasi syariah, dan lain sebagainya. Tingkat risiko tergantung pada komposisi instrumen investasi yang dipilih oleh pengelola reksadana terkait.
  6. Reksadana Terproteksi: produk reksadana terproteksi mirip dengan deposito yang baru dapat dicairkan setelah jangka waktu tertentu. Karakteristik khasnya, waktu pembelian produk reksadana terproteksi telah ditentukan oleh manajer investasi, dan penjualannya kembali biasanya baru diperbolehkan setelah beberapa bulan atau beberapa tahun berlalu. Tingkat risiko reksadana terproteksi relatif rendah dan potensi return lebih tinggi, karena dana yang terhimpun akan dialokasikan pada instrumen kategori layak investasi (Investment Grade) saja. Namun, minimal penyertaan biasanya cukup tinggi (antara belasan hingga ratusan juta rupiah) dan jangka waktunya sangat lama (mulai dari satu hingga beberapa puluh tahun).

Selain keenam jenis reksadana tersebut, ada pula reksadana indeks dan dan Exchange Traded Fund (ETF). Namun, keduanya kurang populer dan tidak diperjualbelikan secara bebas di Indonesia.

 

Cara Mendapatkan Reksadana

Dahulu, reksadana hanya dapat dibeli langsung pada perusahaan manajer investasi yang umumnya memiliki nama dengan label "Asset Management" atau "Investment Management". Namun, kini banyak agen penjual reksadana yang memungkinkan akses lebih luas untuk pembelian unit penyertaan secara online maupun offline.

Beberapa manajer investasi populer di Indonesia antara lain Danareksa Investment Management, Kiwoom Investment Management, Schroder Investment Management, dan lain sebagainya. Sedangkan pembelian reksadana online dapat pula dilakukan melalui beberapa marketplace berikut ini dengan minimal investasi awal mulai dari Rp 10,000-100,000an:

  1. Bareksa
  2. Ipotfund
  3. Supermarket Reksadana
  4. BukaReksa
  5. Tokopedia

Caranya cukup sederhana:

  1. Buka situs perusahaan manajer investasi atau marketplace.
  2. Lakukan pendaftaran untuk membuka akun di situs tersebut.
  3. Setelah pendaftaran disetujui, Anda akan dapat mengakses pilihan produk reksadana dan prospektus yang tersedia.
  4. Setorkan dana sesuai dengan syarat minimum penyertaan.
  5. Beli produk reksadana yang cocok dengan tujuan investasi Anda.

Apabila membeli reksadana langsung pada manajer investasi terkait, maka Anda boleh jadi bisa membeli unit penyertaan dengan biaya-biaya lebih rendah. Anda juga akan mendapatkan penawaran produk reksadana terproteksi dari manajer investasi terkait. Namun, jenis produk reksadana yang tersedia akan terbatas pada produk-produk dari satu manajer investasi itu saja.

Di sisi lain, jika membeli reksadana melalui marketplace, maka Anda dapat memilih produk reksadana yang disusun oleh berbagai perusahaan manajer investasi. Dana investasi Anda pun bisa dibagi-bagi ke beberapa produk reksadana dari manajer investasi berbeda (diversifikasi).

Pilihan cara investasi reksadana manapun yang dipilih, pastikan Anda menyimak prospektusnya terlebih dahulu. Perhatikan histori kinerja, kebijakan investasi, dan besar biaya yang dikenakan oleh manajer investasi. Kalau perlu, selidiki reputasi manajer investasi terkait dan minta rekomendasi dari rekan-rekan Anda.