Warren Buffet, seorang investor sukses dan terkenal asal Amerika Serikat, merekomendasikan reksadana indeks (Index Funds) sebagai alternatif investasi yang aman di pasar keuangan untuk para pensiunan. Menurutnya, reksadana indeks lebih praktis dan efektif bagi investor daripada hanya memilih saham-saham individual. Misalnya saja, melalui reksadana indeks, investor dapat membeli seluruh saham di S&P 500 dengan biaya operasional yang rendah.

Pada umumnya, rata-rata biaya operasional reksadana indeks lebih rendah dibandingkan dengan biaya operasional di manajer investasi aktif. Selain itu rata-rata performa reksadana indeks lebih baik dalam jangka panjang dibandingkan dengan kebanyakan performa manajer reksadana aktif. Bagi Anda yang masih sangsi dengan klaim ini, saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai reksadana indeks secara komprehensif dalam artikel ini.

Reksadana Indeks

 

Apa Itu Reksadana Indeks?

Reksadana indeks merupakan salah satu jenis reksadana dengan portofolio yang terdiri dari komponen indeks pasar saham, misalkan seperti S&P 500 atau LQ45. Reksadana indeks dikatakan lebih menjanjikan dari sekedar reksadana saham, karena bisa memberi eksposur pasar saham yang lebih luas, biaya operasional yang rendah, serta turnover portofolio yang rendah.

Namun sebenarnya, investasi pada reksadana indeks merupakan bentuk investasi pasif. Berinvestasi secara pasif (passive investing) merupakan sebuah strategi investasi dengan target keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, reksadana indeks dianggap sangat ideal untuk pensiunan. Praktek berinvestasi secara pasif juga sangat menekankan pentingnya biaya beli dan jual pada tingkat minimum. Hal ini sesuai dengan keuntungan utama dari investasi pada reksadana indeks, yaitu rasio biaya manajemen yang relatif rendah.

 

Apa Saja Keunggulan Reksadana Indeks?

Karena manajer reksadana indeks hanya mereplikasi kinerja indeks saham yang dijadikan sebagai patokan, mereka tidak memerlukan layanan analisa dari pihak lain dalam proses pemilihan saham. Namun demikian, dana yang dikelola secara aktif masih memerlukan peran tim analis. Dalam kasus ini, biaya tambahan dari manajemen reksadana dapat tercermin dalam rasio biaya manajemen dan dilanjutkan ke pemegang saham.

Dengan metode "pengindeksan" yang merupakan bentuk pasif dalam mengelola dana, maka investasi pada reksadana indeks dianggap telah berhasil mengungguli reksadana yang dikelola secara aktif. Reksadana indeks yang paling populer adalah S&P 500, Russell 2000 (perusahaan-perusahaan kecil), Wilshire 5000 Total Market Index (total stock market), MSCI EAFE (kumpulan saham-saham Eropa, Australasia, dan Timur Tengah), serta Barclays Capital US Aggregate Bond Index (total bonds market).

Di samping itu, rasio biaya manajemen bisa langsung tercermin dalam kinerja reksadana indeks, sehingga secara otomatis dianggap lebih menguntungkan daripada reksadana yang dikelola secara aktif dan memiliki rasio biaya manajemen lebih tinggi. Akibatnya, banyak reksadana yang dikelola secara aktif sangat sulit untuk mengalahkan keunggulan reksadana indeks. Berdasarkan hasil penelitian dalam kurun waktu 2010-2015, sekitar 84 persen reksadana aktif dengan kapitalisasi besar memperoleh tingkat imbal hasil lebih rendah daripada S&P 500. Adapun dalam periode waktu 2005-2015, 82 persen reksadana aktif gagal mengungguli kinerja reksadana indeks dalam hal tingkat keuntungan.

Dari ulasan mengenai reksadana indeks di atas, dapat disimpulkan bahwa aset ini dapat menjadi salah satu alternatif investasi di pasar keuangan yang sangat layak untuk dimanfaatkan para pensiunan, juga oleh para investor yang cenderung defensif. Dengan kata lain, jika Anda menyukai "low risk and low cost", reksadana indeks bisa jadi pilihan yang bisa dipertimbangkan.

 

Selain reksadana indeks dan reksadana saham, masih ada kategori reksadana lain yang digolongkan menurut aset dan tingkat risikonya. Apa sajakah itu? Dapatkan informasinya dalam artikel Mengenal Jenis - Jenis Reksadana.