Sebagaimana wahana investasi lain, reksa dana tak luput dari kemungkinan rugi. Kerugian reksa dana dalam jumlah besar-besaran jarang terjadi, karena ciri khas aset ini adalah keseimbangan risk/reward yang lebih terkendali di tangan Manajer Investasi. Namun, itu tak lantas berarti investor tak mungkin mengalami loss sama sekali dalam investasi reksa dana.

Awal bulan September ini, media Kontan melaporkan bahwa kinerja reksa dana saham berdasarkan data Infovesta Equity Fund Index 90 telah tergerus hingga -2.81% (Month-over-Month) pada bulan Agustus 2019. Padahal, kinerja IHSG hanya menurun 0.97% dalam periode yang sama. Jika dihitung sejak awal tahun, kinerja jenis reksa dana ini bahkan sudah melemah sekitar 6%, meskipun pertumbuhan IHSG masih positif.

Hal ini boleh jadi membuat investor bertanya-tanya; katanya reksa dana saham itu paling menguntungkan, tapi kenapa malah rugi? Patut untuk diperhatikan, Indeks Infovesta mengukur rerata berdasarkan pembobotan tertentu terhadap sejumlah produk reksa dana saham pilihan saja. Dengan kata lain, ada reksa dana saham yang rugi besar sekali, tetapi ada juga yang tetap berkinerja positif dalam kurun waktu yang sama.

Faktanya, koleksi reksa dana saham dalam portofolio penulis masih mencetak pertumbuhan 8.10% sejak awal tahun. Memang ada investor reksa dana yang mengalami kerugian, tetapi jelas bahwa ia pasti tak mengoleksi produk reksa dana saham dengan cara yang sama dengan penulis.

Cara Menghindari Kerugian Reksa Dana

Ada banyak cara untuk menghindari kerugian reksa dana. Berikut ini dua diantaranya yang wajib diperhatikan oleh investor pemula:

1. Diversifikasi Portofolio

Produk reksa dana itu sendiri sudah merupakan suatu bentuk portofolio. Namun, kita sebagai investor juga perlu membangun portofolio pribadi yang terdiri atas beragam aset investasi (diversifikasi). Sebagai contoh, penulis memiliki koleksi investasi berupa reksa dana, saham, dan P2P Lending. Penulis juga menyimpan dana darurat dalam emas digital, serta memanfaatkan disposable income untuk trading forex.

Alokasi untuk saham dan reksa dana masing-masing dibagi lagi ke dalam beberapa saham dan beberapa reksa dana. Setiap bulan, alokasi untuk reksa dana dibelikan minimal 2 produk yang memiliki profil risk/reward berbeda: satu dari jenis reksa dana saham, dan satu lagi dari reksa dana pasar uang (baca juga: Mengenal Jenis-jenis Reksa Dana). Alokasi untuk reksa dana saham itu pun tidak melulu disalurkan ke satu produk yang dari Manajer Investasi yang sama, melainkan ke dua produk dari Manajer Investasi berbeda.

Diversifikasi seperti ini bisa jadi agak membingungkan bagi investor pemula. Pada tahap awal, penulis juga sempat melakukan banyak kesalahan hingga portofolio terlalu tersebar (tidak fokus) dan profit tidak optimal dibandingkan dengan biaya maupun energi yang dibutuhkan untuk mengaturnya. Namun, kita bisa mengembangkan sistem sendiri untuk menatanya secara sederhana dalam jangka panjang.

2. Abaikan Fluktuasi Kinerja Jangka Pendek

Ketika melihat nominal kerugian reksa dana dalam portofolio, apa yang Anda lakukan? Reaksi investor pemula umumnya langsung jual atau melepas reksa dana tersebut. Padahal, ini merupakan reaksi yang keliru.

Pasar keuangan selalu berfluktuasi; kadang naik, kadang turun. Jadi, kerugian reksa dana dalam jangka pendek itu wajar. Apabila Anda langsung jual reksa dana saat kinerjanya menurun, maka Anda bisa jadi hanya akan menelan kerugian terus menerus tanpa pernah menikmati keuntungan sama sekali. Kinerja reksa dana itu boleh jadi langsung rebound (meningkat kembali), segera setelah Anda menjualnya.

Dalam hal ini, Anda perlu belajar cara membedakan antara penurunan kinerja reksa dana yang hanya sementara, dan penurunan kinerja yang bersifat permanen. Apabila kinerja hanya melemah sementara saja, maka abaikan. Anda boleh tetap konsisten membeli reksa dana itu maupun beralih mengoleksi aset investasi lain, tetapi tak perlu menjual produk reksa dana yang sedang lesu tersebut. Namun, jika kinerja diperkirakan menurun terus, maka sebaiknya cut loss dengan menjualnya, kemudian ganti subscribe ke produk reksa dana berbeda.

Bagaimana cara membedakannya? Ada dua cara. Pertama, perhatikan kinerja reksa dana pada tahun-tahun sebelumnya. Apabila kinerja tahun ini (Year-to-Date) melemah, tetapi tahun-tahun sebelumnya positif, maka kelemahan kali ini boleh jadi hanya di awal tahun saja. Pertahankan reksa dana hingga akhir tahun.

Kedua, selaraskan dengan tujuan investasi Anda. Umpama tujuan investasi jangka panjang (>5 tahun), maka kerugian reksa dana di bawah satu tahun tidak perlu dihiraukan. Namun, jika tujuan investasi jangka pendek (<1 tahun), maka semestinya sejak awal Anda memilih reksa dana pasar uang, bukannya reksa dana saham. Kekeliruan itu harus diperbaiki segera untuk menghindari kerugian lebih besar, sekaligus mengoptimalkan keuntungan investasi reksa dana Anda.