Strategi investasi defensif merupakan metode konservatif dari alokasi dan manajemen portofolio yang bertujuan meminimalkan risiko. Strategi investasi defensif memerlukan penyeimbangan portofolio reguler untuk mempertahankan alokasi aset yang diinginkan. Metode ini berbeda dari strategi investasi agresif yang berusaha mengambil keuntungan dari pasar dalam jangka pendek dengan membeli sekuritas berisiko dan bervolatilitas relatif tinggi. Strategi investasi agresif pada umumnya juga menggunakan perdagangan option dan perdagangan margin.

Strategi Investasi Defensif

Daripada mengandalkan keuntungan jangka pendek, strategi defensif lebih memprioritaskan ketahanan dalam jangka panjang. Tekniknya bisa dengan memperhitungkan tujuan dan memilih alokasi aset yang tepat, serta menyeimbangkan antara risiko dan potensi imbalannya. Dalam prakteknya, investor dapat menggunakan metode investasi dari strategi investasi defensif yang berupa margin of safety dan teori diversifikasi.

 

Margin of Safety

Margin of safety merupakan sebuah prinsip investasi dimana investor hanya membeli sekuritas ketika harga pasar secara signifikan berada di bawah nilai intrinsiknya. Investor dapat menetapkan margin pengaman sesuai dengan preferensi risiko mereka sendiri. Dengan kata lain, investasi dilakukan ketika sekuritas memiliki risiko mengalami penurunan relatif rendah. Investor berpengalaman tahu bahwa konsep margin of safety sangat penting dalam memilih obligasi atau saham yang bagus.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan kereta api harus mempunyai pendapatan lebih dari lima kali lipat biaya totalnya (sebelum pajak penghasilan), yang berlangsung selama beberapa tahun, agar obligasinya bisa digolongkan sebagai investasi yang layak (investment-grade). Kemampuan masa lalu untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi dari biaya bunga ini merupakan margin of safety yang dipercaya bisa melindungi investor dari kerugian atau kegelisahan dalam situasi kemerosotan laba bersih di masa depan.

Obligasi

(Baca juga: Apa Itu Obligasi?)

Margin of safety untuk obligasi bisa dihitung dengan membandingkan total nilai perusahaan dengan jumlah utang. Kalkulasi yang sama bisa dilakukan juga untuk saham. Jika perusahaan berutang $10 juta sementara total nilai perusahaan $30 juta, maka ada ruang untuk penurunan nilai sebesar dua pertiga -setidaknya secara teoritis- sebelum pemegang saham menderita kerugian. Kesimpulannya, margin of safety bisa dikatakan sebagai nilai ekstra atau "bantalan".

 

Teori Diversifikasi

Diversifikasi merupakan sebuah prinsip investasi konservatif yang meyakini bahwa memiliki banyak sekuritas bisa memberikan hasil yang menguntungkan. Dasar cara berpikirnya ialah sekuritas yang banyak dapat menghasilkan agregat keuntungan lebih besar daripada rerata kerugian.

Dengan melakukan cara diversifikasi, risiko yang tidak sistematis dalam suatu portofolio dapat diredam oleh kinerja positif dari sebagian besar sekuritas. Dengan kata lain, kinerja positif dari sebagian besar sekuritas dapat menetralkan kinerja negatif yang lain. Oleh karena itu, manfaat diversifikasi hanya berlaku jika sekuritas dalam portofolio tidak berkorelasi sempurna.

Sebuah studi menunjukkan bahwa mempertahankan portofolio 25 hingga 30 saham yang terdiversifikasi dengan baik, dapat menghasilkan tingkat pengurangan risiko dengan biaya yang relatif rendah. Berinvestasi dalam sekuritas lebih banyak menghasilkan manfaat diversifikasi, meskipun tingkat imbal hasilnya relatif rendah.

Manfaat diversifikasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan berinvestasi pada sekuritas asing, karena mereka cenderung kurang berkorelasi erat dengan investasi domestik. Misalnya, penurunan ekonomi di Indonesia mungkin tidak memengaruhi ekonomi Jepang dengan cara yang sama. Oleh karena itu, memiliki investasi di Jepang dapat memberikan investor perlindungan kecil terhadap kerugian akibat penurunan ekonomi di Indonesia.

Manajer investasi dan investor sering melakukan diversifikasi investasi di seluruh kelas aset, dan menentukan masing-masing persentase portofolio yang akan dialokasikan. Ini dapat mencakup saham, obligasi, real estate, Exchange-Traded Fund (ETF), komoditas, investasi jangka pendek, dan kelas aset lainnya. Mereka kemudian akan melakukan diversifikasi di antara investasi dalam kelas aset, seperti dengan memilih saham dari berbagai sektor yang cenderung memiliki korelasi pengembalian rendah, atau dengan memilih saham dengan kapitalisasi pasar yang berbeda. Dalam kasus obligasi, investor memilih dari obligasi korporasi, Surat Utang Negara (SUN), obligasi dengan imbal hasil tinggi, dan lainnya.

 

Salah satu aset investasi yang mengoleksi beberapa instrumen sekaligus adalah reksadana. Untuk mengenalnya lebih lanjut, Anda bisa mengunjungi artikel Apa Itu Reksadana Dan Bagaimana Cara Mendapatkannya.