Secara umum, perdagangan saham bisa dilakukan dengan dua orientasi, yakni investasi dan trading. Dua orang bisa jadi sama-sama membeli saham suatu perusahaan yang sama, tetapi jika orientasinya berbeda, maka cara ambil untung dan besar keuntungan yang diperoleh dari saham itu juga akan berbeda pula. Untuk memahami lebih lanjut mengenai topik tersebut, Anda dapat menyimak tiga (3) perbedaan investasi dan trading berikut ini:

 

1. Jangka Waktu

Dalam istilah pasar keuangan, "investasi" merujuk pada kegiatan penanaman modal dengan target keuntungan dalam jangka panjang, hingga lebih dari 1-3 tahun ke depan. Sedangkan "trading" merupakan aktivitas untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat, antara kurang dari satu tahun atau bahkan dalam kurun waktu satu hari saja.

Pelaku investasi disebut sebagai "investor", sedangkan pelaku trading lazim disebut "trader". Jika seorang investor membeli saham hari ini, maka ia kemungkinan akan "hold" hingga periode sangat lama, bahkan mungkin sampai 10 tahun ke depan. Namun, apabila seorang trader membeli saham hari ini, maka ia boleh jadi hanya akan "hold" dalam tempo beberapa hari atau beberapa bulan saja. Jika target profit yang diinginkan sudah tercapai, trader juga bisa langsung menjual kembali sahamnya pada satu hari yang sama.

Inilah perbedaan investasi dan trading yang pertama dan terutama. Karena jangka waktu akan berimplikasi pada target perdagangan saham, pemilihan saham dalam portofolio, dan masih banyak lagi.

Perbedaan Investasi dan Trading Saham

 

2. Target Penanaman Modal

Secara teoritis, kita tahu bahwa keuntungan dalam perdagangan saham bisa diperoleh dari dividen dan Capital Gain. Dividen akan dibagikan secara berkala oleh perusahaan berdasarkan kesepakatan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dengan nominal proporsional tergantung kepemilikan saham masing-masing investor. Di sisi lain, Capital Gain diperoleh dari selisih harga jual dan harga beli saham.

Nah, apabila seseorang membeli saham dengan tujuan investasi, maka targetnya adalah dividen dan Capital Gain. Sebelum mencapai kurun waktu yang diekspektasikan, investor bisa terus menerus mengumpulkan saham-saham tertentu saja dari waktu ke waktu (nabung saham).

Di sisi lain, kalau membeli saham dengan tujuan trading, maka targetnya hanya Capital Gain saja, karena dividen umumnya dibagikan setahun sekali atau dua kali. Seorang trader bakal cenderung mencari saham-saham fluktuatif dan mengincar berbagai saham berbeda dan berganti-ganti dari waktu ke waktu.

 

3. Dasar Pemilihan Saham

Karena menargetkan keuntungan dalam jangka panjang, maka investor saham akan memilih saham-saham emiten berkinerja baik. Emiten berkinerja baik ini memang tidak selamanya termasuk saham Blue Chip atau masuk LQ45. Namun, membutuhkan analisa fundamental yang cukup mendalam.

Sementara itu, trader boleh jadi tak menelaah masalah fundamental terlalu dalam. Daripada menelaah kondisi fundamental emiten, trader akan lebih menganalisa pergerakan harga saham secara teknikal. Tujuannya agar bisa menemukan titik entry dan target ambil untung seoptimal mungkin.

 

 

Selain ketiga perbedaan investasi dan trading saham di atas, sebenarnya perdagangan yang dilakukan oleh investor dan trader didasarkan pada kondisi yang setara. Kondisi yang setara itu dalam hal modal, pemilihan pialang (perusahaan sekuritas/broker), jenis rekening efek, fee jual-beli saham yang dikenakan, dan seterusnya.

Ada anggapan salah kaprah kalau investasi saham akan membutuhkan modal lebih besar dibandingkan trading saham. Alasannya, saham berkinerja bagus tentunya dibanderol dengan harga mahal. Namun, itu belum tentu benar. Pasalnya, saham para emiten berkinerja bagus bisa jadi sedang murah karena situasi eksternal atau belum terungkap keunggulannya di muka publik.

Ambil contoh pembelian saham Bank BCA (kode saham BBCA) oleh Hartono bersaudara saat harganya jatuh pasca krisis 97/98. Saat ini, harga saham BBCA memang mahal dan tergolong Blue Chip; tetapi pada era itu, harganya masih jauh lebih murah.

Meniru contoh tersebut, Anda yang ingin membeli saham dengan orientasi investasi dapat mencoba menelaah emiten pada lini kedua, bukan hanya berfokus pada daftar LQ45 saja. Siapa tahu, ada "hidden gem" yang bisa tergali dan memberikan keuntungan berlipat ganda bagi Anda di masa depan.